Sultan Tutup 14 Lokasi Penambangan Pasir Ilegal di Sleman

- Senin, 13 September 2021 | 17:27 WIB
Gubernur DIY Sri Sultan HB X.  (Suara.com/Putu)
Gubernur DIY Sri Sultan HB X. (Suara.com/Putu)

YOGYAKARTA, AYOYOGYA.COM -- Gubernur DIY Sri Sultan HB X menutup 14 lokasi penambangan liar hulu sungai Gunung Merapi, Sleman, lantaran ilegal dan merusak alam.

"Ini tambang apa, waduh semua rusak (alam) semua. Sehingga ini jelas bagi saya tidak pro lingkungan. Kan memang izin (penambangan) itu enggak ada. Jadi saya tutup semua 14 portal," ungkap Sultan, Senin (13/09/2021).

Melihat secara langsung kerusakan alam yang terjadi di Kapanewon Cangkringan Sabtu (11/09/2021) bersama GKR Hemas dan anggota keluarga lain, Sultan menilai para penambang serakah dengan mengeruk pasir hingga kedalaman 50-90 meter. Penambangan liar tidak hanya dilakukan di tanah kas desa namun juga tanah Sultan Ground (SG). Padahal tidak ada ijin dari Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi, dan Sumber Daya Mineral (PUP ESDM) DIY.

Baca Juga: Hore, Tebing Breksi Segera Uji Coba Pembukaan, Bupati Sleman: Sudah Kantongi Izin Kemenparekraf

"Ya biarpun (tambang) itu digali 100 meter tetep lava. Tanah di Jogja itu lava semua. Tapi (penambangan) tanpa reklamasi dan sebagainya. Jadi kalau saya (menilai penambang) yang dicari hanya duit saja. Keserakahan itu yang dimaksud. Karena kalau melihat ke sana itu luar biasa itu dalemnya (pengerukan)," jelasnya dalam berita Suara.com--jaringan Ayoyogya.com.

Sultan menambahkan, penutupan penambangan liar dilakukan dengan memasang portal. Dengan demikian tidak ada kendaraan truk yang bisa masuk ke kawasan tambang.

Baca Juga: Realisasi Vaksinasi Dosis Pertama di DIY Capai 70 Persen

"Saya punya harapan dengan di portal kendaraan dan lain sebagainya tidak bisa masuk. Kalau dilakukan (ini tindakan) kriminal," tandasnya.

Sebelumnya Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Biwara Yuswantana mengungkapkan penutupan 14 tambang pasir ilegal di Sleman dikarenakan lokasi penambangan di kawasan rawan bencana. Area tambang ilegal itu juga sudah mengkhawatirkan karena berlubang cukup dalam dan rawan runtuh.

"(Penutupan tambang) demi keselamatan penambang maupun masyarakat sekitar akhirnya kami tutup," imbuhnya.

Halaman:

Editor: Regi Yanuar Widhia Dinnata

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengharukan! Badut Berpenghasilan Rp20.000 Bantu ODGJ

Jumat, 24 September 2021 | 16:30 WIB

10 Tempat Ngopi Asyik dan Instagramable di Jogja

Jumat, 24 September 2021 | 12:00 WIB

10 Rekomendasi Kuliner Murah dan Legendaris di Jogja

Kamis, 23 September 2021 | 15:30 WIB
X